(Part 8) Kos Seberang Saidah : Suara Gamelan

Dua hari berlalu, pencarian Yogi tidak membuahkan hasil. Aku tidak mau Ibu dan Ayah tahu tentang kejadian ini di kampung. Aku yang mengawali dan aku sendiri yang harus menyelesaikannya. Aku minta bantuan Mario untuk mencari Yogi, untungnya ia bersedia tinggal di kosku untuk beberapa hari ke depan. Kami sepakat meminta bantuan para normal untuk mencari keberadaan Yogi.
Paranornal itu bernama Pak Bambang, ia menaburkan garam di sudut-sudut kamar kosku dan membakar menyan. Menurutnya, Yogi diculik oleh roh jahat yang tinggal di menara Saidah. Dia menyuruhku untuk menunggu tiga hari lagi maka akan muncul petunjuk keberadaan Yogi.
Aku penasaran ada apa sebenarnya dengan menara Saidah dan kamar kosku. Di suatu malam aku mengajak Mario untuk mendatangi menara Saidah. Kami mengendap-endap masuk ke halaman menara itu dengan menaiki gerbang setinggi tiga meter. Menurut informasi yang aku baca di internet, menara Saidah ini diresmikan tahun 2001 dan ditutup tahun 2007 karena kontruksinya dianggap cacat. Saat berhasil masuk ke halaman gedung, bulu kudukku langsung merinding seperti memberi sinyal kalau ada hantu yang bertebaran di menara Saidah.
Kutemukan patung-patung bernuansa Romawi di depan pintu masuk menara, mungkin dimaksudkan untuk menyambut tamu yang datang. Ada enam tiang besar utama di bagian depan dengan cat hijau yang mulai memudar. Aku mengelap kaca yang penuh debu dengan lengan baju dan menyorotkan cahaya senter ke dalam gedung. Kulihat kursi tamu dan meja resepsionis yang sudah usang. Kemudian, kami mencoba masuk ke dalam gedung itu lewat pintu utama.
“Sebentar, gua mau nyalain kamera dulu,” Mario menarik lengan kemejaku.
“Lo mau ngapain?” Tanyaku.
“Ngevlog, bro,” jawabnya sambil terus mensetting kamera mirrorless miliknya.
“Hallo guys! Kali ini gua bersama sahabat gua Dani! Kami lagi di menara Saidah buat nyari tahu keberadaan adiknya yang hilang,” dia menggerakkan kamera ke arahku, sementara aku menatap kamera itu sekilas dan tanpa ekspresi.
“Hus! jangan berisik nanti ketahuan orang! Lo sejak kapan sih ngevlog? Gaya banget! ”
“Baru hari ini, bro. Lumayan kalau viral jadi duit.”

Dia mulai merekam sekeliling gerbang utama, sementara aku mencoba membuka pintu dengan obeng. Tapi tidak berhasil.
Kemudian, kami mengendap-endap ke belakang gedung mencari celah untuk masuk. Di sana aku melihat sebuah pentilasi udara yang menganga cukup besar sekiranya muat untuk badan kami berdua. Kuambil kursi lipat yang tergeletak di lantai, kemudian kami memanjat dinding itu dengan hati-hati.
“Buset gelap banget! Kita di toilet ini.” Kata Mario sambil membersihkan bajunya dari debu.
Kupancarkan cahaya senter ke segala penjuru ruangan. Kulihat banyak sarang laba-laba yang menjuntai di setiap sudut ruangan, debu berserak di mana-mana, wastafelnya kotor dan berkarat, cermin buram memantulkan wajah kami berdua saatku sinari dengan senter. Juga suara cericit tikus kecil yang berhamburan takut akan kedatangan kami.
“Ayo jalan,” kata Mario sambil terus merekam video. Kemudian, kutarik rambutnya yang keribo dan memberi isyarat agar tenang.
“Lo dengar sesuatu nggak?” Bisikku.
Kami berdua seketika terdiam sambil meruncingkan telinga mendengar suara sayu-sayup.
Mario mengerutkan wajah, “Iya anjir gua dengar itu suara gamelan, balik aja yuk!”
“Kita udah nyampe di sini tanggung Mario,” aku meyakinkannya.
Perlahan kami berdua meninggalkan ruangan toilet untuk mencari sumber suara. Kami mendengar suara gamelan itu berasal dari lantai dua, lalu kami mencari jalan lain untuk sampai ke sana karena lift sudah tidak berfungsi. Setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya kami menemukan jalan arternatif ____sebuah anak tangga yang sepertinya menuju ke lantai dua.
Kemudian, kami menaiki tangga dengan penuh hati-hati. Seluruh ruangan gelap hanya cahaya senter dan kamera Mario yang menjadi penerang kami. Sesampainya di lantai dua, kami tercengang dengan apa yang kami lihat. Di sana... ada Ibu Ratih yang sedang menari layaknya sinden dengan diiringi musik gamelan, gong, suling, dan gambang yang bergerak main sendiri tanpa ada manusia yang memainkan.
Nantikan cerita selanjutnya "Kos Seberang Saidah" hanya di HORORR22

0 Response to "(Part 8) Kos Seberang Saidah : Suara Gamelan"
Posting Komentar