Togel Terpercaya

(Part 2) Kos Seberang Saidah : Kami Tak Hanya Berdua

Mbah Ngesot

Keesokan paginya aku melihat Ibu Ratih___pemilik indekos___sedang mengisi token listrik kamar nomor enam. Ini aneh, kamar itu kosong kenapa token listriknya diisi. Dengan penuh rasa penasaran aku mendekatinya.

Penampilan Ibu Ratih sangat berbeda dengan perempuan kebanyakan di Jakarta, ia selalu mengenakan rok batik dan baju kebaya.

“Selamat pagi, Bu Ratih,” sapaku.
“Oalah selamat pagi, Nak Dani. Mau berangkat kerja to, Mas?” Sapanya dengan logat khas Jawa. 
“Iya nih, Bu. Oh ya Bu, saya mau tanya.”
“Iya kenapa ya Nak?”

“Kamar nomor enam kok listriknya diisi dan kenapa lampunya nyala terus, ya Bu. Kan kamarnya kosong.”
“Oh anu mas penglaris saja biar kosan ibu cepat ada yang isi.”
“Oh begitu ya, Bu. Oya Bu satu lagi, terkahir kali kosan ini ada yang tempatin kapan, ya?”

“Sekitar enam bulan yang lalu Nak Dani, emang kenapa, ya?”
“Oh nggak Bu, saya nanya aja.” Aku tersenyum seraya pamit.

Jujur saat itu aku masih belum puas mendengar jawaban Bu Ratih. Dengan hati masih penasaran kunyalakan mesin motorku langsung tancap gas berbaur dengan puluhan kendaraan lainnya di jalan Jakarta yang macet. Aku harus mengantarkan Yogi terlebih dahulu ke kampusnya karena kami hanya punya satu motor.

marten-newhall-20nRrCBtBaA-unsplash (1).jpg

Di perjalanan, aku hanya diam dan tidak menceritakan keanehan semalam karena Yogi sangat penakut nanti dia malah minta pindah kosan. Sesampainya di kampus aku merogoh tas lalu memberinya uang saku.

“Uang kembalian semalam masih ada kok, jadi lo nggak usah ngasih gua uang jajan hari ini,” ujarnya sambil membetulkan posisi kacamatanya.

“Uang semalam?” Dahiku mengernyit.
“Iya semalam sekitar jam tigaan lo kan bangunin gua nyuruh beli makanan. Uangnya seratus ribu dan ini masih sisa banyak.”

“Oh i..iya, lupa.”

Itu jelas bukan aku dan sengaja aku mengiyakannya agar dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Aku semakin yakin, tidak cuma kami yang tinggal di kosan itu. Tapi saat ini aku belum tahu, siapa dia.

Nantikan cerita selanjutnya "Kos Seberang Saidah" hanya di HORORR22

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "(Part 2) Kos Seberang Saidah : Kami Tak Hanya Berdua"

Posting Komentar