Togel Terpercaya

(Part 1) Kos Seberang Saidah : Kamar Nomor Enam

Mbah Ngesot

Aku Dani seorang karyawan. Dua bulan yang lalu adikku Yogi sempat hilang. Aku yakin kejadian ini ada kaitannya dengan kamar kos yang aku sewa. Aku dan adikku menemukan lokasi indekos itu di internet dengan harga murah hanya satu juta per bulan, tapi fasilitasnya lengkap ada AC, dan kamar mandi di dalam, jarang sekali kosan di jakarta semurah itu.

Saat itu aku tidak curiga sedikitpun dan kami sepakat menyewanya. Kamarnya berada di lantai dua, tepat di seberang Menara Saidah. Ada enam kamar kos tapi semuannya tidak berpenghuni. Aku dan adikku mengisi kamar nomor satu dengan tujua agar dekat tangga,.

Isi kamar kos terbilang lengkap ada kasur, bantal, selimut, lemari, meja kerja, dan komputer. Dindingnya dicat warna putih dan masih bagus. seperti baru di cat beberapa bulan lalu, kamar mandinya bersih dan harum.

Walau tidak berpenghuni, kamar kos ini seprtinya terawat dengan baik. Malam pertama tinggal di kamar kos aku dan Yogi merasa nyaman. Malam itu kami main game online sampai tertidur.

Kejanggalan mulai terjadi saat kudengar suara sayup sayup seorang wanita minta tolong membuatku terbangun. Dengan terhuyung huyung kuraih gagang pintu, Tapi anehnya saat kuperiksa diluar tidak ada siapa siapa. Sesaat sebelum kembali ketempat tidur, suara wanita itu terdengar lagi terkesan seperti berteriak membuat Yogi bangun.

"Siapa itu, kak ?" tanya Yogi dengan wajah kantuknya.
"Gua nggak tau, tadi gua uda cek tapi ngaa ada orang"
"Duh jangan jangan setan kak" Yogi memegang lenganku ketakutan

Suara wanita itu tidak mau berhenti. ia terus berteriak minta tolong tapi sekali lagi aku cek tetap tidak kutemukan siapapun. Kucoba periksa tangga, disana aku melihat sekelebat punggung seorang wanita, ia berlari keluar komplek kosan sambil tertawa terbahak bahak. Dugaanku mungkin dia sedang bikin konten video prank.

"Brengsek, kayaknya kita dikerjain Yog."
"Ya tuhan ini jam dua malam, ada ada aja orang yang iseng. Uda kak tidur lagi aja besok gua harus kuliah,"kata Yogi.

Aku mengunci pintu dan mematikan lampu, mencoba tidur kembali.
Beberapa saat kemudian menguar aroma aneh dikamarku seperti aroma daun pandan.

Aku bangkit mencari sumber bau itu tanpa membangunkan Yogi.
Aromanya berasal dari luar lalu dengan penuh penasaran kuikuti sumber aroma itu mengarah ke beranda kamar nomor enam. Disanalah kutemukan tumpukan daun pandan.

Aneh! siapa malam malam begini yang menaruh dauh pandan disini ?
Saat hendak kuraih daun itu tiba tiba seseorang memanggilku.

“Kakak.” Itu suara Yogi dia berdiri di halaman kosan sambil mendongak ke arahku.
“Lho kok lo bangun Yog. Ngapain lo di bawah.”
“Lapar Kak nyari nasi goreng yuk.” Katanya.
“Emang masih ada yang dagang malem-malem gini?”
“Yaelah banyak lah kak, ini Jakarta. Ayo sini turun.”
“Okay sebentar Kakak ambil uang dulu.”

Aku bergegas masuk ke kamar, tapi betapa terkejutnya saat kutemukan Yogi masih tidur dengan pulas di atas kasur. Buru-buru kukunci pintu dan mematikan lampu. Nafasku terengah-engah keringat juga mulai bercucuran di dahiku. Sialnya sosok yang menyerupai Yogi tetap memanggilku; mengajak makan.

“Kak ayo cepat turun.”  Suara itu lirih, namun terdengar ganjil.
“Kak?” Suaranya semakin mendekat.

Aku mendengar langkah kaki menaiki tangga, semakin lama semakin mendekat, suaranya seolah menusuk-nusuk telingaku. Kucoba menutup kedua telinga serapat-rapatnya dengan telapak tangan sambil memejamkan mata. Tapi, perlahan suara itu hilang.

Nantikan cerita selanjutnya "Kos Seberang Saidah" hanya di HORORR22

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "(Part 1) Kos Seberang Saidah : Kamar Nomor Enam"

Posting Komentar