Togel Terpercaya

(Part 6) Kos Seberang Saidah : Pergi Dari Sini

Mbah Ngesot

Beberapa kali aku mengetuk pintu Bu Ratih. Tetapi, tidak ada jawaban dari balik pintu. Sepertinya dia sedang tidak ada di rumah. Aku lalu memutuskan untuk pulang saja.

Sesaat sebelum kunyalakan mesin motor, tiba-tiba aku mendengar suara Bu Ratih memanggilku. Dia berlari kecil, tergopoh-gopoh menghampiriku. Ia membawa jinjingan. Mungkin belanjaan untuk kebutuhan pokok.

“Nak Dani, ada apa ya? Ayo masuk dulu,” ia membuka pintu.
“Oh iya, Bu. Ada hal yang mau aku tanyakan.”

Aku duduk di atas sofa tua miliknya. Beberapa bagian kain sofa itu sudah terkelupas. Banyak bekas cakaran kucing di sana-sini.

Sementara itu, dinding ruangan di cat warna putih. Namun, warnanya sudah terlihat memudar. Beberapa foto keluarga yang berwarna hitam putih terpajang di sana. Ada juga foto kemesraan Bu Ratih dengan seorang lelaki -- mungkin suaminya -- terpajang di sebelah kanan jam dinding berbentuk bulat. Jam itu sudah tak berfungsi.

“Begini, Bu. Sudah dua kali ada perempuan yang datang ke kamar kosku. Dan, tadi sore aku ketemu sama dia di emperan toko. Ternyata namanya Raina. Kata tukang jamu, dia memiliki gangguan jiwa. Apakah ibu kenal dengan perempuan itu?”

“Wah, dia emang sering lewat sekitaran sini. Tapi, ibu tidak kenal, Nak. Kalau ada dia, usir saja. Memang terkadang suka mengganggu,” jawabnya dengan tenang.

“Oh begitu ya, Bu. Dia pernah gangguin Bu Ratih juga enggak?”
“Pernah sekali, langsung ibu usir, Nak.”

Jujur, pertemuan malam itu dengan Bu Ratih belum bisa memuaskan pertanyaan besar di dalam benakku. Aku rasa masih ada sesuatu yang Bu Ratih rahasiakan dariku. Setelah mencicipi beberapa kue, aku lantas pamit. Hari sudah mulai gelap.

Saat tiba di kosan, betapa terkejutnya aku memergoki Yogi sedang menggenggam pisau. Ia terlihat hendak melukai lehernya sendiri. Sontak, aku menabrak tubuhnya.

Aku dan Yogi terbanting ke atas kasur. Pisau itu berhasil terlepas dari tangannya. Namun, ia malah berteriak tak karuan. Sesekali ia tertawa tebahak-bahak.

Badannya mengamuk, namun aku berusaha untuk menahannya. Beberapa kali aku berteriak meminta tolong. Tapi, tak seorang pun yang datang. Sementara aku masih menahan tubuh Yogi yang masih berontak, tiba-tiba saat itu Raina muncul di depan pintu. Ia berteriak dengan lantang.

“PERGI DARI SINI!”

Nantikan cerita selanjutnya "Kos Seberang Saidah" hanya di HORORR22

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "(Part 6) Kos Seberang Saidah : Pergi Dari Sini"

Posting Komentar