Togel Terpercaya

(Part 4) Kos Seberang Saidah : Percakapan Ibu Ratih

Mbah Ngesot

Jimat itu langsung diantar ke kantor. Bentuknya bulat sebesar uang koin dan terbuat dari kayu___entah kayu apa___ada ukiran kalimat menggunakan bahasa Jawa Kuno di permukaan jimatnya. Jimat itu juga dilengkapi dengan  kertas panduan yang segera kubaca pelan-pelan. Panduan yang aneh, di sana tertulis tata cara penggunaan dan sebuah pesan singkat bertuliskan ‘simpanlah di tempat yang sejuk’  jujur aku ragu dengan jimat itu tapi apa salahnya dicoba.

Jam sembilan malam, Yogi masih sibuk dengan tugas kuliahnya sementara aku membaca ulang cara pemakaian jimat itu. Menurut kertas panduan, benda itu harus dicelupkan ke dalam air terlebih dahulu lalu diletakkan di sudut kamar. Maka sebelum tidur kuletakkan jimat itu tepat di sudut kamar dekat pintu.

“Apaan itu?” tanya Yogi.
“Jimat, buat jaga-jaga aja.”
“Tuh kan gua bilang apa kayaknya lo tahu kalau kosan ini....”
“Hus! Udah tidur lo. Nggak ada apa-apa di kosan ini, jimat ini buat jaga-jaga aja.”

Yogi meraih gelas dan menuangkan air dari dispenser. Ia mengerutkan dahinya.
“Kak lo sadar nggak sih ini galon air baru kemarin kita isi kok airnya tinggal setengah begini. Cepat banget habisnya.”

“Oh, itu waktu pagi pas lo masih tidur, ibu kosan minta air minum soalnya di rumah beliau kehabisan air jadi gua kasih dia.”

Yogi terdiam seperti sedang mencerna baik-baik penjelasanku yang tidak masuk akal, tetapi untungnya dia masih menerima penjelasanku. Dia kemudian tidur dengan nyenyak, sedangkan aku sama sekali tidak bisa tidur.

Kantuk tidak kunjung datang, padahal aku sudah mengubah beberapa kali posisi tidurku tetapi tetap saja gagal. Mataku tetap tidak mau terpejam.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara benda bergetar dari sudut kamar dekat pintu. Tidak salah lagi itu suara yang timbul dari jimatku. Buru-buru kunyalakan senter dari smartphone. Kuperhatikan jimat itu lamat-lamat. Jimatnya bergetar hebat dan perlahan melambat dengan tangan bergetar kusentuh jimat itu.

Arghh
Jimatnya menjadi sangat panas membuat telapak tanganku merah seperti habis menyentuh kenalpot motor. Anehnya sesaat kemudian jimat itu hangus menjadi abu. Aku meringsut kembali ke tempat tidur, tetapi tiba-tiba aku mencium aroma daun pandan menguar memenuhi ruangan.

Dari balik tirai jendela, kulihat sebuah bayangan berjalan ke arah kamar nomor enam; itu bayangan seorang wanita. Aku mengintipnya dengan penuh hati-hati, mataku menangkap sosok wanita, itu adalah Ibu Ratih.

Ini tengah malam dan sedang apa dia di sini? Aku hanya bisa melihat punggung Ibu Ratih dari celah jendela. Ia sedang berlutut entah ritual apa yang ia lakukan. Aku mendengar sayup-sayup pembicaraannya menggunakan bahasa Jawa entah sedang membicarakan apa dan siapa yang dia ajak bicara.

Selang beberapa saat, tiba-tiba dia menoleh ke arahku seraya tersenyum, tapi senyum yang dingin.  Membuatku bergidik, dan terkejut. Aku beranjak, segera kubenamkan tubuh ke kasur. Dan lagi-lagi terdengar suara derap langkah menuju kamarku, semakin mendekat, semakin berat.

Nantikan cerita selanjutnya "Kos Seberang Saidah" hanya di HORORR22

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "(Part 4) Kos Seberang Saidah : Percakapan Ibu Ratih "

Posting Komentar