Togel Terpercaya

(Part 10) Kos Seberang Saidah : Dia Sudah Meninggal

Mbah Ngesot

Aku berhasil menyelamatkan Yogi yang nyaris saja menjadi tumbal pesugihan. Keesokan paginya, kami mendatangi rumah Ibu Ratih namun ia tidak ada. Saat kuintip dari kaca rumahnya yang kusam, rumahnya seperti tidak berpenghuni. Sofanya berdebu pekat, sarang laba-laba menjuntai di langit-langit ruangan, banyak daun kering berserak di lantai beranda rumahnya.

Kulihat sepeda ontel butut yang sudah berkarat tergeletak sembarang di sudut beranda rumah. Ini benar-benar seperti rumah yang sudah kosong selama bertahun-tahun.

“Mas, cari siapa?” Dari kejauhan seorang lelaki tua___mungkin umurnya kisaran enam puluh tahun___ melangkah gontai menghampiri kami.

“Kami bertiga lagi cari Ibu Ratih, Pak,” jawabku lugas.
“Lho gimana to, Mas? Dia udah meninggal setahun lalu.”
“Yang bener, Pak?!” Mario memotong obrolan.
“Bapak ini siapa?” Tanyaku.

“Saya Darto kakaknya Ratih. Saya tinggal di Jakarta Timur, Mas. Sengaja saya datang ke sini karena sudah lama rumah ini nggak saya bersihin. Rumah dan kosannya mau saya jual, Mas.”

“Kak, udah kita pergi aja sekarang.” Yogi membujukku, kondisi tubuhnya masih lemas.

Tanpa menceritakan apa yang terjadi, kami bergegas pamit. Aku sudah menemukan kosan baru yang ramai penghuni di daerah Mampang Prapatan____Mario yang merekomendasikan kosan itu. Kumasukkan koper berisi pakaian ke dalam bagasi mobil yang kami sewa. Lalu, mobil yang kami tumpangi melaju perlahan meninggalkan halaman kosan. Saat mobil melintasi pertokoan, aku melihat Raina berdiri mematung di emperan, ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahku. Kubuka jendela mobil dan melayangkan senyum kepadanya.

Di sepanjang jalan, aku masih memikirkan perkataan lekaki tua itu. Apakah benar Ibu Ratih sudah meninggal? Lantas, apa penyebab kematiannya? Kunyalakan smartphone untuk mencari tahu tentang  pesugihan, mungkin saja hal ini ada kaitannya dengan pesugihan. Kutemukan beberapa tulisan yang mengulas tentang pesugihan Menara Saidah, di sana tertulis kalau orang yang melakukan pesugihan harus memberikan dua orang tumbal manusia, satu laki-laki dan satu perempuan. Jika terlambat memberi tumbal, maka orang yang melakukan pesugihanlah menjadi tumbalnya. Bukan hanya itu saja, ia juga akan menjadi budak setan tersebut untuk mencari tumbal-tumbal selanjutnya.

Kumatikan layar smartphone, melempar pandangan ke luar jendela mobil. Aku yakin pasti Ibu Ratih terlambat memberi tumbal kedua setelah berhasil menumbalkan Ibunya Raina, dan dia menjadi budak setan.
2 bulan kemudian
Hari ini, aku menjenguk Raina di emperan toko dekat kosan yang pernah kusewa. Saat kami menemuinya, dia sedang makan nasi bungkus dengan lahap--mungkin pemberian tukang jamu gendong. Dia masih tidak bisa diajak bicara, tapi sesekali tersenyum malu-malu kepadaku. Aku membawakannya kue coklat dan makanan ringan lainnya. Saat sedang menemani Raina, aku melihat sebuah mobil SUV menuju ke arah kos Bu Ratih. Buru-buru kunyalakan mesin motor, mengikuti mobil itu dari belakang. Sesampainya di halaman kos, kulihat seorang wanita muda dengan mengenakan celana jogger, baju T-sirt, dan sneaker putih keluar dari mobil. Ia menggusur sebuah koper, lalu naik ke lantai dua. Aku mengendap-endap mengikutinya dari belakang. Kemudian, kuintip wanita itu dari balik tembok dekat tangga. “Dengan Ibu Ratih, ya?” tanya wanita itu. Aku terkejut melihat Bu Ratih keluar dari kamar nomor enam. “Iya, Nak,” jawabnya. “Aku pilih kamar nomor enam ya, Bu. Kayaknya nyaman, ini uang sewa kosnya.” Wanita itu mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu menyerahkannya pada Bu Ratih. Bu Ratih tersenyum ramah pada wanita itu dan tiba-tiba saja ia menoleh ke arahku sambil mengangguk ramah. SELESAI....

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "(Part 10) Kos Seberang Saidah : Dia Sudah Meninggal"

Posting Komentar